Prof. Ibrahim ajar makna harga diri dengan duit RM100. Apa yang dia dibuat ?

Sebelum memulakan seminar, Prof.Ibrahim mengeluarkan sehelai wang kertas bernilai RM100 dari dompetnya. Kemudian wang itu ditayangkan kepada 50 orang pesertanya.

“Siapa nak duit ni?” tanya Prof Ibrahim..

Semua peserta mengangkat tangan.

“Saya akan berikan duit ini kepada salah seorang daripada kamu, tapi izinkan saya membuat sesuatu dahulu “. Prof Ibrahim meramas-ramas duit itu hingga renyuk.

Kemudian dia menunjukkan duit yang sudah renyuk itu dan bertanya: “Ada sesiapa yang nak duit ini lagi?”

Hampir semua pesertanya mengangkat tangan. Prof Ibrahim mengangguk dan mencebikkan bibir.

“Okey apa kata kalau saya buat macam ni?”

Duit RM100 itu dicampakkan dan di tenyeh-tenyeh dengan kasutnya..

Prof Ibrahim memungutnya semula lalu diletakkan di atas meja. Wang kertas itu bukan sahaja renyuk tetapi juga kotor.

“Sekarang siapa nak duit ni?” tanya Prof Ibrahim.

Selesai dia bertanya, lebih separuh daripada jumlah pesertanya masih mengangkat tangan.

“Okay, apa yang boleh kita kutip daripada peristiwa itu tadi?” tanya Prof. Ibrahim lagi.

Pesertanya hanya diam, dan sesetengahnya hanya menggelengkan kepala. Mereka masih tidak dapat menangkap apa yang cuba disampaikan oleh Prof Ibrahim.

“Walau apapun yang saya lakukan pada duit ini, kamu tetap akan mahukannya. Betul tak? Kamu tahu kenapa? Kerana nilainya tidak berubah walaupun dipijak dan ditenyeh dengan kasut.”

“RM100 tetap RM100 walaupun 10 kali dipijak.” kata Prof.Ibrahim. Semua peserta yang mendengar kata-katanya hanya tersenyum.

Prof Ibrahim mengaitkan peristiwa itu dengan kehidupan seharian. Sering kali di dalam hidup,setiap orang akan merasai kejatuhan, hati hancur, ataupun dihina. Hinggakan suatu ketika kita akan merasa diri kita tidak berguna langsung.

“Tetapi walau apapun yang telah terjadi, ataupun yang akan terjadi, anda tidak akan hilang harga diri. Bersih atau kotor, renyuk atau licin, anda tetap berharga terutama pada mereka yang disayangi.”

“Harga diri kita bukan datang daripada apa yang kita lakukan atau siapa yang kita kenal tapi siapa sebenarya kita?”jelas Prof Ibrahim.

Semua peserta ternganga mendengar penerangan profesor itu dan mereka lantas mengiyakan kebenaran kata-kata profesor itu…

moral:

Harga diri kita bukan datang daripada apa yang kita lakukan atau siapa yang kita kenal tapi siapa sebenarya diri kita.

Sumber

IMAN KENTANG, TELUR DAN KOPI.

Saya pernah terbaca sebuah kisah mengenai bagaimana seorang ayah mengajar anaknya erti kehidupan dengan cara yang amat berhikmah. Ceritanya lebih kurang begini :

Suatu ketika seorang anak perempuan mengeluh pada ayahnya bahwa hidupnya sangat susah dan dia tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Ia merasa lelah menghadapi sulitnya hidup yang dijalaninya dan tampaknya masalah selalu datang bertubi-tubi, selesai satu masalah, datang masalah yang lain lagi.

Sang ayah yang merupakan seorang chef kemudian mengajaknya ke dapur. Ia mengambil tiga buah periuk kecil dan mengisinya dengan air serta meletakkannya di atas api. Setelah ketiga² periuk kecil itu mulai mendidih ia meletakkan sebuah kentang ke dalam periuk pertama, telur pada periuk ke dua dan biji kopi di periuk ke tiga.

Sang ayah kemudian duduk dan diam menunggu tanpa mengucap satu katapun pada putrinya.

Putrinya yang tak sabar dengan apa yang dilakukan ayahnya mengeluh, tampak gusar dan gelisah sambil bertanya dalam hatinya, “apa yang akan dilakukan ayah?”

Setelah kurang lebih dua puluh minit berlalu, sang ayah mematikan api dapur. Dia mengambil kentang dari periuk dan meletakkannya dalam mangkuk. Lalu mengambil telur dan meletakkanya dalam mangkuk yang lain. Dia kemudian menyendok kopi dan menuangkannya dalam sebuah cawan.

Pandangan sang ayah beralih pada putrinya dan ia bertanya, “Putriku, apa yang kamu lihat?”

“Kentang, telur dan kopi,” jawab putrinya dengan terburu-buru dan setengah hati.

“Lihat lebih dekat”, kata sang ayah.

Dia melakukan dan menyedari bahwa kentangnya telah berubah menjadi lembut. Sang ayah kemudian memintanya untuk mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya, ia mengamati telur rebus. Akhirnya, sang ayah memintanya untuk menghirup kopi dalam gelas dan tercium aroma yang harum dan membuat anak perempuan tersebut tersenyum pada ayahnya.

“Ayah, apa ertinya ini semua?” tanyanya.

Sang ayah kemudian menjelaskan bahwa kentang, telur dan biji kopi memiliki masing-masing menghadapi kesulitan pada air mendidih. Namun, masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeza. Kentang yang keras saat dimasukkan tetapi dalam air mendidih, menjadi lunak dan lembut.

Telur itu rapuh, dengan kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya saat dimasukkan ke dalam air mendidih bagian dalam telur menjadi keras.

Namun, biji kopi yang unik. Setelah mereka terkena air mendidih, biji tersebut mengubah warna air dan menciptakan sesuatu yang baru.

“Yang manakah dirimu?” tanya ayah pada putrinya. “Ketika kesulitan menderamu, bagaimana kamu menyikapinya? Apakah kamu seperti sebuah kentang, telur, atau kopi?”

KESIMPULAN: SAAT KITA DITIMPA UJIAN DUNIA YANG FANA INI, APAKAH IMAN KITA SEPERTI KENTANG, KOPI ATAU TELUR? FIKIR²KAN.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*